Aku ingat saat SMP dulu,
Masuk aku ke sebuah kelas SMA
Tertempel di dinding tulisan - tulisan penyemangat
Satu tulisan yang membuatku terkenang sampai saat ini;
“Orang Sombong, Sejatinya, Seseorang yang Tak Berpengetahuan”
Berbahagialah orang yang menciptakan tulisan itu, menuliskannya, dan menempelnya di dinding.
Namanya Hermansyah. Katanya, bapaknya dulu senang dengan Hermansyah yang keeper kesebelasan nasional.
Namun sayang, Hermansyah murid saya ini tidak berbadan tinggi besar layaknya pemain bola legendaris itu. Ia berbadan kurus, pendek, bermuka pucat dan mata cekung.
Kondisi fisik yang demikian ini seringkali jadi bahan ejekan teman – temannya.
Jika diejek, ia tak marah, senyum – senyum saja, tapi jelas kalau ia malu.
Untungnya, ia anak yang cukup pintar.
Suatu saat, ketika saya mengajar di kelas Herman, ada celetukan yang mengejek bentuk badan Hermansyah yang kurus itu.
Saya berhenti mengajar dan berkata:
“Dulu Albert Einstein pernah berkata: ‘Besuk, jika teori relativitas terbukti, orang Amerika akan mengatakan bahwa saya warga Negara Amerika. Orang Jerman akan mengatakan bahwa saya warga Negara Jerman’.
“Jika Herman kelak menjadi orang yang sukses, engkau akan menyesal karena telah mengejeknya”
Kelas terdiam.
Pagi ini kotaku diguyur hujan. Dan karena itu saya teringat sesuatu.
Sekolah kami terletak di daerah pegunungan. Karenanya, tanahnya pun tanah liat yang lengket.
Masalah yang tiba jika hujan turun adalah;
Sepatu anak – anak akan menginjak lumpur tanah liat itu dan lumpur yang lengket akan tetap menempel di sol sepatu hingga anak – anak itu memasuki kelas mereka.
Apa yang terjadi?
Kelas menjadi selayak kubangan lumpur.
Coklat yang kotor.
Tidak hanya itu,
Lantai kelas pun jadi semakin licin.
Di saat seperti inilah biasanya kami menyisihkan waktu untuk mengepel lantai dan memberlakukan aturan agar anak – anak menanggalkan sepatu mereka di luar kelas. Anak – anak pun nyeker (tak bersepatu).
Seusai shalat ‘Ied,
anak - anak kecil usia sepuluhan tahun, berpakaian kumal,
berlarian memungut koran bekas alas shalat para jamaah.
Mungkinkah anak - anak itu sekolah?
Selasa, September 30, 2008
Kukirimkan pesan pendek ke sanak saudara, kerabat, handai taulan,
Kepada, teman, karib, dan rekanan.
Pendek benar, cukup satu SMS untuk memuatnya:
“Taqobal Allohu Minna wa Minkum. Maafkan kesalahanku”
Namun,
Tanpa aku tahu, tanpa terlihat oleh mata, maksudku,
Berjuta doa, permohonan maaf dan pemberian maaf berseliweran di udara.
Merubah dirinya menjadi selimut yang
Menentramkan dan menghangatkan jiwa – jiwa manusia.
“Taqobal Allohu Minna wa Minkum. Maafkan kesalahanku”
Kuhaturkan kepada anda semua.